UCAN Indonesia Catholic Church News

Kardinal Tagle: Kebenaran di balik tetesan air mata

18/06/2013

Kardinal Tagle: Kebenaran di balik tetesan air mata thumbnail

 

Air matanya menetes ketika ia menerima topi merah dari Paus Benediktus XVI pada November 2012 yang mengundang perhatian media dan umat Katolik di seluruh dunia.

Tapi, lebih dari enam bulan setelah menjadi kardinal, Uskup Agung Manila, Luis Antonio Gokim Tagle, mengatakan ia masih belum terbiasa dengan orang-orang yang memanggilnya “Yang Mulia”.

Kardinal Tagle berada di Roma untuk mengambil kepemilikan “gereja titular” dari San Felice da Cantalice pada Sabtu. Setiap kardinal baru ditugaskan di sebuah paroki di Roma, yang memberikan dia sebuah hak untuk memilih paus baru.

Namun, pada Jumat malam, di sela-sela peluncuran bukunya, Easter People: Living Community (Gente di Pasqua, EMI, 2013), yang diterjemahkan ke dalam bahasa Italia, ia bertemu dengan para wartawan yang telah menempatkan dia dalam  daftar calon Paus menjelang Konklaf pada Maret lalu.

Kardinal Tagle adalah salah seorang penerima topi merah terakhir yang diangkat oleh Paus Benediktus menjelang pengunduran dirinya – sebuah kelompok kecil dari enam kardinal, guna menyeimbangkan Kolese Kardinal dengan Gereja dari Asia, Afrika dan Amerika karena kebanyakan Eropa.

Pada peluncuran buku tersebut, Kardinal Tagle mengatakan Gereja di Asia, yang memiliki tradisi 2.000 tahun menjadi minoritas, bisa membantu umat Katolik di Barat mengakui bahwa sekularisasi dan penyusutan jumlahnya bukan hanya menunjukkan gejala krisis.

“Keletihan Gereja di [Barat] bagi saya tampaknya sebagian besar merupakan konsekuensi dari sikap yang hanya mencari alasan dan konsekuensi dari masalah, tanpa menyadari peluang bahwa dunia modern menawarkan karya evangelisasi Gereja,” katanya.

Selama perbincangan satu jam, Kardinal Tagle berusia 55 tahun itu menceritakan, ia mendapat sambutan yang membingungkan dari Vatikan hanya satu hari sebelum diumumkan sebagai kardinal termuda kedua Gereja saat ini.

“Oktober lalu saya berada di Roma untuk menghadiri Sinode Uskup dan itu sangat indah. Hanya dua hari sebelumnya, kami telah merayakan kanonisasi santo kedua dari Filipina, Pedro Calungsod. ”

Pada 23 Oktober Kardinal Tagle menerima surat kaleng dengan nomor telepon dan permintaan bertemu dia selama rehat kopi.

Ia menjalankan permintaan itu dan ia diberitahu pergi ke sekretariat negara Vatikan, pada pukul 04:50 hari itu.

“Saya mulai bertanya-tanya: Mengapa pukul 04:50? Mengapa tidak pukul 05.00? Dan mengapa mereka memanggil saya? Apa yang saya lakukan salah?” kata Kardinal Tagle sambil tersenyum.

Sore itu Uskup Agung Filipina itu menanyakan ketua kelompok kerja sinode, Uskup Agung Diarmuid Martin dari Dublin, yang telah menghabiskan bertahun-tahun di Kuria Romawi – apa alasan pertemuan itu? jawab uskup agung Dablin: “Mungkin mereka akan mengirim Anda ke Suriah.”

Pada saat itu, Vatikan sedang mempertimbangkan mengirimkan delegasi sinode ke Suriah untuk menyerukan perdamaian di negara yang dilanda perang. Misi ini kemudian dibatalkan akibat keamanan di negara itu memburuk.

“Saya langsung mulai berpikir bahwa saya harus mengubah tiket pesawat saya,” kata Kardinal Tagle.

Ketika ia tiba di sekretariat negara, ia menemukan Tarcisio Kardinal Bertone, sekretaris Negara Vatikan sedang menunggu dia.

Kardinal Bertone mulai membacakan sebuah surat untuk dia dan Kardinal Tagle ingat bahwa cara itu perlahan-lahan mulai menyadari dia bahwa ia sedang direncanakan menjadi kardinal. Pengumuman resmi dilakukan keesokan harinya, pada 24 Oktober.

“Tidak ada pertanyaan. Kardinal Bertone hanya mengatakan ‘saya akan menyampaikan kepada Bapa Suci bahwa Anda telah diberitahu’.”

Hal yang tak terduga itu merupakan salah satu alasan yang menyebabkan air matanya menetes selama Konsistori pada 24 November.

“Saya menangis dengan mudah, meskipun saya tidak ingin. Saya tidak tahu apakah itu kelemahan atau kekuatan, tetapi [air mata] menetes dengan mudah bagi saya. Saya tidak menyembunyikan emosi saya,” jelas Kardinal Tagle.

“Itu adalah air mata seorang pria yang mengenal dirinya sendiri, dosa-dosanya dan keterbatasannya, tetapi yang menerima sebuah panggilan Anda tidak bisa mengatakan ‘tidak’, tapi hanya bisa menjawab ‘ya’ dengan sukacita dan kepercayaan. Itu adalah air mata ketakutan – tetapi juga sukacita,” tambah Kardinal Tagle.

Sumber: Cardinal Tagle: the truth behind the tears

Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. Uskup serukan penghentian kekerasan terkait pilkada
  2. Indonesia segera ratifikasi konvensi anti-penghilangan paksa
  3. PBB bahas perubahan iklim di Jakarta
  4. Pengadilan Bangladesh ancam Human Rights Watch
  5. PS Unika Parahyangan akan tampil dalam konser untuk pembangunan gereja
  6. Lagi, jemaat GKI Yasmin dan HKBP Filadelfia ibadah di depan Istana
  7. Belanda minta maaf secara terbuka atas pembantaian di Indonesia
  8. Paus Fransiskus angkat Sekretaris Negara Vatikan yang baru
  9. 80 persen pasien rehabilitasi kembali menggunakan narkoba
  10. Prihatin krisis Suriah, Paus Fransiskus ajak puasa sehari
  1. Sudah saatnya kita meninggalkan apriori di masa lalu tentang pemerintahan yang k...
    Said Maman Sutarman on 2013-10-11 22:16:00
  2. damai itu indah, damai itu kasih, damai itu sejahtera.... Tuhan menghadirkan ki...
    Said Lerman Simanjuntak on 2013-10-08 13:01:00
  3. menarik juga menyimak pendapat Ali Sina dialamat ini. http://indonesian.alisina....
    Said alex on 2013-10-06 21:48:00
  4. hanya menutupi sebagian kecil kekerasan yg dialami oleh gereja disana, tp lumaya...
    Said De Girsank on 2013-10-02 16:52:00
  5. Bolehlah di contoh Indonesiaku, tunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia yang terk...
    Said Stefan on 2013-10-01 13:11:00
  6. Ini adalah bukti nyata dari kegagalan pendidikan di negara ini. Negara ini tidak...
    Said Matias on 2013-09-28 11:38:00
  7. Pak Ahok... Luar biasa. Seruan profetis di tengah pola pikir dan pola tindak ira...
    Said Matias on 2013-09-28 11:15:00
  8. Bapak Presiden yang terhormat. Belajar dong dari Jokowi. Janganlah Gengsi. Perso...
    Said Matias on 2013-09-28 10:50:00
  9. Erta Junaedi : berarti itu agama gak bisa di Indonesia karena negara Indonesia b...
    Said De Girsank on 2013-09-24 08:01:00
  10. seratus untuk ibu ratna s,,GBU...
    Said SILVESTER on 2013-09-20 20:19:00
UCAN India Books Online