UCAN Indonesia Catholic Church News

Seberkas cahaya di balik perjuangan keluarga korban terpidana mati

05/07/2013

Seberkas cahaya di balik perjuangan keluarga korban terpidana mati thumbnail

Martinus Sambo

 

Ruben Pata Sambo, 72, dan anaknya Markus Pata Sambo, 36, sudah divonis mati tahun 2006 oleh Pengadilan Tinggi Makasar, Sulawesi Selatan dan menurut Kejaksaan Agung, mereka masuk dalam daftar narapidana yang akan dieksekusi tahun ini.

Keduanya dituduh menjadi otak kasus pembunuhan terencana terhadap keluarga dari Andarias Pandin dan Martina La’biran serta 2 orang anggota keluarga lainnya pada 23 Desember 2005 dalam kasus perebutan lahan.

Dalam persidangan, Ruben dan Markus dinyatakan menyuruh eksekutor Agustinus Pata Sambo yang divonis mati, serta rekannya, Yulianus Maraya dan Juni Sambo yang juga mendapat vonis 20 tahun penjara..

Terdakwa lain dalam kasus ini adalah Budianto Tian, tetapi akhirnya  bebas karena dinyatakan tidak bersalah setelah mengajukan banding di Pengadilan Tinggi Sulawesi Selatan.

Selain itu, juga Martinus Pata Sambo, anak Ruben yang divonis 8 tahun penjara dan sudah dibebaskan pada 2012, setelah mendapat potongan masa hukuman 2 tahun.

Hingga kini, Ruben dan Markus masih mendekap di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Medaeng, Malang, Jawa Timur.

Meski keputusan mereka sudah berkekuatan hukum tetap, namun, hingga sekarang, keduanya masih terus yakin tidak bersalah dan menuduh polisi telah memaksa mereka mengaku terlibat dalam kasus ini selama proses penyelidikan.

Karena itu, upaya mendesak agar proses peradilan diselidiki lagi terus dilakukan.

Sejak 2006, berbagai langkah mereka upayakan. Tahun 2008, melalui Yuliani Anni, anak perempuan Ruben, diajukan Peninjauan Kembali (PK) vonis mereka ke Mahkamah Agung (MA), namun gagal, dengan alasan tidak ada bukti hukum (novum) baru, karena bukti yang mereka ajukan sudah pernah dipakai dalam persidangan sebelumnya.

Merasa terus yakin bahwa orang tuanya tidak bersalah, Anni pantang menyerah. Tahun 2012, ia minta bantuan ke LBH di Jakarta dan Komnas HAM, juga ke Komisi Yudisial untuk menyelidiki lagi kasus ini, tetapi tak ada tanggapan.

Saat kakaknya Martinus bebas tahun lalu, mereka mulai berjuang bersama-sama.

Kepada ucanews.com, Martinus mengatakan, selain didorong oleh ’keyakinan hati’ bahwa vonis terhadap mereka adalah rekayasa polisi, ia mengatakan, hal ini juga diperkuat oleh pengakuan tertulis Agustinus Sambo, Yulianus Maraya, dan Juni dalam persidangan bahwa Ruben, Markus dan Martinus tidak terlibat dalam kasus ini.

Dalam pernyataan yang dibuat pada 30 November 2006 itu, Agustinus menulis: “Ruben Sambo dan Markus Pata Sambo serta Martinus Pata sama sekali tidak terlibat dalam perkara pembunuhan korban Andarias Pandin dan isterinya Martina La’biran”.

Namun, kata Martinus, polisi tidak menjadikan hal tersebut sebagai bukti untuk menjelaskan ketidakterlibatan keluarga mereka.

Martinus menggambarkan bagaimana ia dipaksa polisi untuk terlibat dalam kasus ini.

”Saat ditangkap, saya dipukul, ditelanjangi. Saya dipaksa mengakui kalau saya yang membunuh. Lalu ada polisi yang memberi tanda ke polisi lainnya agar saya dimasukkan ke sebuah lorong gelap. Di dalam sel, saya juga dipukuli siang dan malam, disundut rokok dan diancam mau dicabut kuku bila terus menolak tuduhan mereka,” tuturnya.

Martinus mengatakan, ia dipaksa mengaku oleh polisi bahwa barang bukti pembunuhan, yaitu parang, merupakan miliknya.

“Parang itu katanya ditemukan di mobil saya. Tapi, saya sama sekali tidak tahu itu parang punya siapa,” kata dia.

Sementara itu, Anni menututkan, saat penangkapan pada 2005 lalu, kata dia, ayahnya dipaksa oknum polisi untuk menandatangani surat yang dia tidak tahu isinya.

“Karena saat itu, di ruang gelap, tak ada lampunya. Polisi tidak membawa surat penangkapan. Ayah saya langsung diseret. Begitu juga kakak saya (Markus) diseret di kantornya dan langsung dipukuli oleh oknum polisi,” katanya.

Pekan lalu, Martinus bersama Anni datang ke Jakarta didampingi oleh Komisi Nasional Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), mengupayakan penangguhan hukuman mati atas Ruben dan Markus serta meminta agar proses pengadilan kasus yang menjerat mereka ditinjau lagi.

Kini, upaya mereka menemukan titik terang, menyusul mencuatnya isu ini menjadi isu nasional dan setelah dalam pertemuan dengan Jaksa Agung, Kamis (20/Juni), pihak Kejagung menyatakan kesediaan untuk mengeluarkan Ruben dan Markus dari daftar eksekusi hukuman mati tahun ini.

Meski menurut Jaksa Agung Basrief Arief, secara formal kasus itu sudah berkekuatan hukum tetap (inkracht), namun katanya, eksekusi mati tidak boleh sembarangan, karena itu kasus ini perlu didalami lagi.

Jaksa Agung berjanji untuk menemui Ketua MA untuk membahas kasus ini.

Selain itu, DPR mengunjungi Ruben dan Markus di penjara pada Senin (1/7) dan setelah pertemuan itu Sayed Muhammad Mualiady, Anggota Komisi III Bidang Hukum DPR berjanji akan membentuk tim investigasi untuk mengumpulkan data dan fakta tentang dugaan rekayasa hukum yang dialami Ruben dan Markus.

“Kami melihat seberkas cahaya”, kata Martinus. “Kasus ini perlu diselidiki ulang, untuk mengungkap kebenaran”, katanya.

Haris Azhar, Ketua KontraS mengatakan, peninjauan ulang kasus ini penting, “agar tidak boleh ada korban yang dibunuh lewat proses peradilan yang salah.

“Aparat hukum harus melakukan mekanisme koreksi terhadap kemungkinan adanya indikasi rekayasa kasus dan peradilan sesat”, katanya.

“Kita tidak bisa menghukum orang yang memiliki kemungkinan menjadi korban dari kesalahan aparat penegak hukum”, katanya.

Ryan Dagur, Jakarta

Berita terkait: Appeals for ‘innocent’ pair convicted for murder

 

Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. Uskup serukan penghentian kekerasan terkait pilkada
  2. Indonesia segera ratifikasi konvensi anti-penghilangan paksa
  3. PBB bahas perubahan iklim di Jakarta
  4. Pengadilan Bangladesh ancam Human Rights Watch
  5. PS Unika Parahyangan akan tampil dalam konser untuk pembangunan gereja
  6. Lagi, jemaat GKI Yasmin dan HKBP Filadelfia ibadah di depan Istana
  7. Belanda minta maaf secara terbuka atas pembantaian di Indonesia
  8. Paus Fransiskus angkat Sekretaris Negara Vatikan yang baru
  9. 80 persen pasien rehabilitasi kembali menggunakan narkoba
  10. Prihatin krisis Suriah, Paus Fransiskus ajak puasa sehari
  1. Sudah saatnya kita meninggalkan apriori di masa lalu tentang pemerintahan yang k...
    Said Maman Sutarman on 2013-10-11 22:16:00
  2. damai itu indah, damai itu kasih, damai itu sejahtera.... Tuhan menghadirkan ki...
    Said Lerman Simanjuntak on 2013-10-08 13:01:00
  3. menarik juga menyimak pendapat Ali Sina dialamat ini. http://indonesian.alisina....
    Said alex on 2013-10-06 21:48:00
  4. hanya menutupi sebagian kecil kekerasan yg dialami oleh gereja disana, tp lumaya...
    Said De Girsank on 2013-10-02 16:52:00
  5. Bolehlah di contoh Indonesiaku, tunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia yang terk...
    Said Stefan on 2013-10-01 13:11:00
  6. Ini adalah bukti nyata dari kegagalan pendidikan di negara ini. Negara ini tidak...
    Said Matias on 2013-09-28 11:38:00
  7. Pak Ahok... Luar biasa. Seruan profetis di tengah pola pikir dan pola tindak ira...
    Said Matias on 2013-09-28 11:15:00
  8. Bapak Presiden yang terhormat. Belajar dong dari Jokowi. Janganlah Gengsi. Perso...
    Said Matias on 2013-09-28 10:50:00
  9. Erta Junaedi : berarti itu agama gak bisa di Indonesia karena negara Indonesia b...
    Said De Girsank on 2013-09-24 08:01:00
  10. seratus untuk ibu ratna s,,GBU...
    Said SILVESTER on 2013-09-20 20:19:00
UCAN India Books Online