UCAN Indonesia Catholic Church News

Program live-in akar rumput membantu pemahaman keberagaman dan melawan intoleransi

15/07/2013

Program live-in akar rumput membantu pemahaman keberagaman dan melawan intoleransi thumbnail

Anak-anak sibuk bermain tanpa melihat latar belakang agama mereka (Acara ini digelar Komunitas Sant'Egidio di Jakarta)

 
Lusiman Senen adalah seorang bintang sepak bola di sekolahnya dan juga aktif dalam organisasi siswa serta mengambil bagian dalam kegiatan di lingkungan.

Belum lama ini, siswa Muslim dari Halmahera Selatan, Maluku Utara ini ikut berpartisipasi dalam sebuah program pemahaman tentang keberagaman. Ia menghabiskan liburannya dengan tinggal bersama (live-in) di sebuah keluarga Katolik keturunan Tionghoa di Jakarta.

Lusiman termasuk di antara 10 siswa SMA dari sembilan provinsi terpilih untuk mengikuti program pertukaran yang bertujuan mempromosikan pentingnya keberagaman dan nasionalisme.

Program, yang disebut SabangMerauke, mungkin yang pertama diadakan yang dirancang untuk membantu para siswa memahami keberagaman di negara ini yang memiliki lebih dari 1.100 kelompok etnis.

Pendiri bersama SabangMerauke Aichiro Suryo Prabowo mengatakan bahwa para siswa yang berpartisipasi secara langsung akan mengalami keberagaman Indonesia dengan tinggal bersama keluarga angkat mereka dari latar belakang budaya dan agama yang berbeda.

Aichiro mengatakan bahwa ia dan dua pendiri lain, Ayu Kartika Dewi dan Dyah Widiastuti, membentuk program itu pada 28 Oktober tahun lalu setelah terinspirasi oleh pengalaman mereka sendiri setelah ikut pertukaran pelajar di negara lain.

“Jika mereka bisa memperlakukan orang asing dengan baik, mengapa kita tidak bisa? Kita bisa mengatasi konflik yang disebabkan oleh perbedaan jika kita memiliki pikiran terbuka dan melihat keberagaman sebagai aset untuk negara kita.”

Ayu mengatakan bahwa warga Indonesia mulai dari masa kanak-kanak perlu diajarkan untuk memahami dampak dari bahaya konflik terkait perbedaan atau keberagaman melalui pengalaman nyata.

Dia mengisahkan dia menyaksikan bahaya intoleransi ketika dia menjadi guru relawan di sebuah desa Muslim di Halmahera tahun 2000. “Konflik Muslim-Kristen di Ambon, ibukota Provinsi Maluku tahun sebelumnya terus memiliki dampak sosial serius. Beberapa siswa yang belum pernah bertemu orang Kristen mengatakan kepada saya, ‘Berhati-hatilah bu, sejumlah orang Kristen mungkin membakar rumahmu nanti.”

Dia mengatakan keberagaman harus diajarkan tidak hanya melalui buku pelajaran, tetapi juga melalui pengalaman.

Mesikipun penghargaan terhadap kemajemukan sudah lama dipegang di Indonesia, tapi negara mayoritas Muslim terbesar di dunia ini sikap intoleransi semakin meningkat.

Sebuah survei yang dilakukan oleh Lingkaran Survei Indonesia (LSI) akhir tahun lalu menemukan 15,1 persen responden memiliki keengganan berelasi dengan orang yang berbeda keyakinan, naik dari 8,2 persen tahun 2005.

Pada Januari, sebuah studi, yang diadakan oleh Center for Strategic and International Studies (CSIS) mengungkapkan 68,2 persen responden menolak orang yang berbeda agama membangun tempat ibadah di lingkungan mereka.

Retno Listyarti, pemerhati dan pegiat pendidikan, yakin bahwa intoleransi di kalangan siswa pada dasarnya berasal dari “pemikiran yang sempit”.

Untuk mengatasi masalah ini, Retno telah mengembangkan sebuah metode pengajaran bagi siswa SMA untuk dengan mudah memahami pentingnya toleransi. Metode ini dalam bentuk pengajaran interaktif melalui permainan di mana para siswa dipaksa untuk berpikir kritis tentang isu-isu yang berkaitan dengan perbedaan agama.

“Selama permainan itu saya menanyakan para siswa saya, apakah mereka tahu tentang Ahmadiyah dan apakah mereka setuju dengan penganiayaan kepada komunitas ini? Pertanyaan-pertanyaan itu akhirnya akan mengarah ke ‘mengapa?'”

Universitas Gadjah Mada (UGM) juga telah mengembangkan sebuah metode untuk membantu memerangi radikalisme melalui forum-forum diskusi yang dibentuk oleh Youth Center dari fakultas ilmu politik dan sosial.

“Radikalisme pada dasarnya disebabkan oleh interaksi sosial homogen. Salah satu cara untuk melawannya adalah memiliki mahasiswa dari berbagai komunitas dan berbagi ide-ide mereka,” kata sosiolog UGM, Muhammad Najib Azca, yang terlibat dalam program ini.

Sumber: The Jakarta Post

Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. Uskup serukan penghentian kekerasan terkait pilkada
  2. Indonesia segera ratifikasi konvensi anti-penghilangan paksa
  3. PBB bahas perubahan iklim di Jakarta
  4. Pengadilan Bangladesh ancam Human Rights Watch
  5. PS Unika Parahyangan akan tampil dalam konser untuk pembangunan gereja
  6. Lagi, jemaat GKI Yasmin dan HKBP Filadelfia ibadah di depan Istana
  7. Belanda minta maaf secara terbuka atas pembantaian di Indonesia
  8. Paus Fransiskus angkat Sekretaris Negara Vatikan yang baru
  9. 80 persen pasien rehabilitasi kembali menggunakan narkoba
  10. Prihatin krisis Suriah, Paus Fransiskus ajak puasa sehari
  1. Sudah saatnya kita meninggalkan apriori di masa lalu tentang pemerintahan yang k...
    Said Maman Sutarman on 2013-10-11 22:16:00
  2. damai itu indah, damai itu kasih, damai itu sejahtera.... Tuhan menghadirkan ki...
    Said Lerman Simanjuntak on 2013-10-08 13:01:00
  3. menarik juga menyimak pendapat Ali Sina dialamat ini. http://indonesian.alisina....
    Said alex on 2013-10-06 21:48:00
  4. hanya menutupi sebagian kecil kekerasan yg dialami oleh gereja disana, tp lumaya...
    Said De Girsank on 2013-10-02 16:52:00
  5. Bolehlah di contoh Indonesiaku, tunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia yang terk...
    Said Stefan on 2013-10-01 13:11:00
  6. Ini adalah bukti nyata dari kegagalan pendidikan di negara ini. Negara ini tidak...
    Said Matias on 2013-09-28 11:38:00
  7. Pak Ahok... Luar biasa. Seruan profetis di tengah pola pikir dan pola tindak ira...
    Said Matias on 2013-09-28 11:15:00
  8. Bapak Presiden yang terhormat. Belajar dong dari Jokowi. Janganlah Gengsi. Perso...
    Said Matias on 2013-09-28 10:50:00
  9. Erta Junaedi : berarti itu agama gak bisa di Indonesia karena negara Indonesia b...
    Said De Girsank on 2013-09-24 08:01:00
  10. seratus untuk ibu ratna s,,GBU...
    Said SILVESTER on 2013-09-20 20:19:00
UCAN India Books Online