UCAN Indonesia Catholic Church News

Mantan napi yang ‘menghidupi’ sesama mantan napi

01/08/2013

Mantan napi yang ‘menghidupi’ sesama mantan napi thumbnail

Yohanes Bambang Mudiarto

 

Tahun 1998, Yohanes Bambang Mudiarto mendekam di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Tangerang, Provinsi Banten, setelah terlibat dalam kasus pemilikan senjata tajam.

“Saat itu, saya mengancam teman bisnis saya yang menipu saya. Saya ancam pake celurit”, katanya kepada ucanews.com dalam sebuah wawancara di Jakarta, pertengahan Juli lalu.

Akibatnya, setelah melalui proses pengadilan, pria yang kini berusia 47 tahun ini, divonis 9 bulan dipenjara.

Layaknya penjara di Indonesia pada umumnya, ia mengaku, sangat kesulitan, karena harus mengalami situasi di balik jeruji besi yang kotor, penat, jauh dari standar kesehatan.

“Saya yang 9 bulan saja merasa menderita, apalagi yang bertahun-tahun,” katanya.

Beban karena menyandang status sebagai narapidana, menurut pria yang disapa Pak Bambang ini, bukan hanya karena situasi fisik yang dialaminya kala itu.

“Yang lebih parah adalah cara orang melihat status saya dan teman-teman lain sebagai narapidana”, katanya. “Seolah-olah saat melihat kami, ada rasa takut dan naluri untuk mengindari kami.”

Pengalaman dijauhi, dipandang sebelah mata, juga ia alami saat ia dibebaskan dari penjara.

“Hidup sabagai mantan narapidana membutuhkan ketahanan mental. Saya harus bisa menghadapi tekanan psikis, akibat perlakuan orang terhadap saya”, ungkapnya.

Selain itu, ia dihantui rasa rendah diri akibat mengalami penolakan dari orang-orang sekitar.

“Saya pernah ditampung di sebuah lembaga milik Protestan, setelah mengalami banyak bentuk penolakan di tempat lain”, katanya.

Pengalaman demikian, kata pria beragama Katolik ini, menggerakan dia untuk mencari cara membantu sesama mantan napi beberapa tahun setelah bebas. Hal itu ia mulai lakukan setelah bisa lepas dari tekanan psikis dan ia sudah bisa bekerja.

“Dalam hati, saya berkata, saya sudah merasakan bagaimana pahitnya pengalaman selama dan setelah dipenjara. Karena itu saya berbuat sesuatu untuk menolong sesama mantan napi”, kata pria yang kini bekerja sebagai designer interior ini.

Tahun 2006, keinginan itu mulai terwujud. Ia membuka usaha playstation dan kios pulsa yang ditangani oleh para mantan napi.

“Saya berkoordinasi dengan beberapa LP, sehingga ketika ada napi yang bebas dan tidak tahu berbuat apa, mereka diminta menghubungi saya”, katanya.

Ada yang tinggal beberapa bulan bersama dia, tapi ada yang singgah saja untuk sementara waktu, sampai mereka mendapat pekerjaan.

Setelah dua tahun menekuni bisnis kecil itu, dimana katanya, tidak mendapat untung, malahan bangkrut, ia mulai memikirkan bentuk bantuan kepada para napi yang lebih teroganisir.

Niat itu terwujud, ketika tahun 2008, Pak Bambang mulai mendirikan rumah socius yang bertempat di Bekasi, Jawa Barat, bekerja sama dengan Romo Jos Koko Prihantono sebagai moderator.

Ia mengatakan, mereka memilih nama socius, dengan filosofi bahwa manusia adalah sesama bagi yang lain.

“Di rumah socius, para mantan napi  diarahkan untuk bisa kembali hidup normal, bisa sembuh dari beban-beban mereka”, katanya.

Saat ini ada 6 mantan napi yang menghuni rumah socius. Di rumah socius, setiap hari, mereka memiliki tugas membuat kerajinan tangan, seperti membuat patung orang kudus, souvenir, Rosario dan kerajinan lain, di samping mengerjakan pekerjaan dan rutinitas lain, seperi memasak dan olahraga.

Karena didorong oleh kepedulian yang besar, Pak Bambang rela merogoh kocek antara 10-13 juta rupiah dari dana pribadinya.

“Itu untuk biaya operasional seperti makan, listrik serta membeli peralatan dasar buat patung. Sebagian dari itu, juga untuk uang saku mereka”, jelasnya.

Kata Pak Bambang, rata-rata setiap orang mendapat uang saku dari 500 sampai 1 juta rupiah per bulan.

Sejauh ini, dana hasil usaha para mantan napi juga sedikit membantu, dengan penghasilan rata-rata sekitar 3-4 juta per bulan dari hasil menjual kerajinan tangan. Kadang-kadang, juga ada bantuan dari kenalan atau donator.

Tahun 2011, Keuskupan Agung Jakarta pernah menyumbang dana 100 juta. “Itu cukup untuk biaya setahun waktu itu”, katanya.

Pak Bambang mengatakan, setelah rumah socius berjalan selama 5 tahun, ada yang mengusulkan agar karya ini berada di bawah naungan Gereja, seperti KAJ.

Namun, katanya, ia menolak, bukan karena tidak mau bekerja bersama Gereja, tapi ada alasan khusus.

“Kalau rumah ini berdiri di bawah bendera Gereja, maka para mantan napi yang umumnya bukan Katolik akan sungkan untuk tinggal bersama saya”, katanya.

Rumah socius, katanya, ingin menjangkau para napi tanpa membeda-bedakan latar belakang, seperti agama dan suku.

Hal ini terbukti dari fakta bahwa dari 40  mantan napi yang pernah tinggal di rumah socius, mayoritas dari mereka adalah Muslim.

Setelah mereka sudah merasa bisa kembali menjalani hidup secara normal, para mantan napi ini mencari pekerjaan di tempat lain, ada yang sebagai sopir, juga sebagian sebagai pedagang. Sebelum meninggalkan rumah socius, mereka membicarakan dulu rencana itu  dengan Pak Bambang.

Iyan, 28, pria Muslim, salah satu mantan napi yang bekerja selama 5 tahun bersama Pak Bambang mengatakan, ia menganggapnya semacam ‘ayah sendiri’.

“Kami bersama dia juga seperti sahabat. Ketika ada masalah, kami tidak canggung menyampaikannya kepada dia”, katanya.

Menurut Iyan, yang beragama Islam, perbedaan keyakinan dengan Pak Bambang, bukan menjadi soal.

“Ia tidak melihat itu semua (perbedaan agama – red), yang ia lakukan, menurut saya, hanya bagaimana menghidupkan semangat kami, agar bisa seperti orang-orang lainnya yang tidak pernah merasakan penjara”, katanya.

“Saat menikah, biaya saya pun dibantu oleh dia”, kata Iyan, yang kini sudah memiliki 1 anak.

Pak Bambang, mengatakan, dirinya akan tetap berkomitmen mengembangkan rumah singgah ini.

“Yang saya lakukan memang tak seberapa, tapi ini bentuk pertanggungjawaban iman saya kepada Tuhan”, kata Umat Paroki St. Bonaventura, Pulomas, Jakarta Timur ini.

Mendirikan rumah singgah, kata dia, juga berangkat dari refleksi tentang cara kebanyakan orang, termasuk orang Katolik dalam memperlakukan napi.

“Karena mengikuti kata-kata Yesus dalam Injil, dimana dikatakan ‘ketika aku dalam penjara kamu tidak mengungjungi aku’, maka orang kebanyakan hanya mau mengunjungi para napi saat mereka dipenjara”, katanya.

“Yang dilupakan, adalah setelah keluar dari penjara. Itulah yang saya ingin lakukan saat ini”

Penderitaan seorang napi, kata dia, tidak berhenti setelah ia meninggalkan pintu penjara.

“Rumah Socius hadir untuk meringankan itu dan menyiapkan mereka agar bisa hadir kembali di tengah masyarakat sebagai warga yang normal”, katanya.

Akhirnya, kini Pak Bambang mengakui, pengalaman pernah menjadi napi, bukan lagi  sesuatu yang ia sesali.

“Saya malahan mensyukuri pengalaman itu, karena akhirnya saya bisa merasakan bagaimana hidup sebagai seorang napi, juga mantan napi”, katanya.

Ryan Dagur, Jakarta

  • Anton Bele

    Membaca UCAN Indonesia menambah referensi saya dalam tugas sebagai Dosen Kitab Suci dan Kateketik di Sekolah Tinggi Pastoral (STIPAS) Keuskupan Agung Kupang. Salam untuk seluruh Redaksi dan koresponden UCAN. Dari Anton Bele, Kupang, Timor, Indonesia.

Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. Uskup serukan penghentian kekerasan terkait pilkada
  2. Indonesia segera ratifikasi konvensi anti-penghilangan paksa
  3. PBB bahas perubahan iklim di Jakarta
  4. Pengadilan Bangladesh ancam Human Rights Watch
  5. PS Unika Parahyangan akan tampil dalam konser untuk pembangunan gereja
  6. Lagi, jemaat GKI Yasmin dan HKBP Filadelfia ibadah di depan Istana
  7. Belanda minta maaf secara terbuka atas pembantaian di Indonesia
  8. Paus Fransiskus angkat Sekretaris Negara Vatikan yang baru
  9. 80 persen pasien rehabilitasi kembali menggunakan narkoba
  10. Prihatin krisis Suriah, Paus Fransiskus ajak puasa sehari
  1. Sudah saatnya kita meninggalkan apriori di masa lalu tentang pemerintahan yang k...
    Said Maman Sutarman on 2013-10-11 22:16:00
  2. damai itu indah, damai itu kasih, damai itu sejahtera.... Tuhan menghadirkan ki...
    Said Lerman Simanjuntak on 2013-10-08 13:01:00
  3. menarik juga menyimak pendapat Ali Sina dialamat ini. http://indonesian.alisina....
    Said alex on 2013-10-06 21:48:00
  4. hanya menutupi sebagian kecil kekerasan yg dialami oleh gereja disana, tp lumaya...
    Said De Girsank on 2013-10-02 16:52:00
  5. Bolehlah di contoh Indonesiaku, tunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia yang terk...
    Said Stefan on 2013-10-01 13:11:00
  6. Ini adalah bukti nyata dari kegagalan pendidikan di negara ini. Negara ini tidak...
    Said Matias on 2013-09-28 11:38:00
  7. Pak Ahok... Luar biasa. Seruan profetis di tengah pola pikir dan pola tindak ira...
    Said Matias on 2013-09-28 11:15:00
  8. Bapak Presiden yang terhormat. Belajar dong dari Jokowi. Janganlah Gengsi. Perso...
    Said Matias on 2013-09-28 10:50:00
  9. Erta Junaedi : berarti itu agama gak bisa di Indonesia karena negara Indonesia b...
    Said De Girsank on 2013-09-24 08:01:00
  10. seratus untuk ibu ratna s,,GBU...
    Said SILVESTER on 2013-09-20 20:19:00
UCAN India Books Online