UCAN Indonesia Catholic Church News

Bom mengancam pluralisme

04/08/2013

Bom mengancam pluralisme thumbnail

 

Pluralisme di Indonesia, yang telah dirusak dengan berbagai kasus intoleransi terhadap Syiah dan Ahmadiyah, kini sedang menghadapi tantangan yang lebih besar setelah bom meledak di sebuah vihara, yang terjadi kurang dari seminggu sebelum umat Muslim merayakan Idul Fitri.

Pada hari Minggu malam, sebuah bom dengan daya ledak rendah meledak di Vihara Ekayana, Jakarta Barat, melukai tiga orang dan merusak sebagian dari tempat ibadah Buddha itu.

Sementara pemerintah,  dan para pakar terorisme masih mencari motif pemboman, termasuk apakah aksi itu terkait dengan konflik kekerasan di antara umat Buddha dan Muslim Rohingya di Myanmar.

Para pemimpin agama merasa khawatir bahwa serangan hari Minggu itu akan menimbulkan malapetaka tentang kehidupan beragama di Indonesia.

Wakil Ketua Wali Umat Buddha Indonesia (Walubi) Suhadi Senjaja mengatakan ia mengecam serangan itu dan memperingatkan umat Buddha untuk tidak mudah terprovokasi oleh kejadian itu dan tetap menjaga perdamaian selama bulan suci Ramadan. “Prinsip ajaran Buddha adalah tidak boleh ada kekerasan dan tidak boleh ada kebencian,” katanya.

Serangan hari Minggu itu adalah insiden pertama di mana Buddha menjadi target. Umat Buddha berjumlah kurang dari satu persen dari penduduk Indonesia, sekitar 90 persen diantaranya adalah Muslim.

Di masa lalu, serangan itu ditargetkan pada gereja-gereja. Tahun 2000, bom meledak di berbagai kota pada Malam Natal, menewaskan 19 orang dan melukai puluhan lainnya. Teror berlanjut pada Desember 2004, ketika polisi menemukan bom rakitan di Riau dan Jawa Barat, diduga bertujuan untuk menciptakan keresahan masyarakat menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru.

Kepala Badan Intelijen Nasional (BIN) Letnan Jenderal (Purn.) Marciano Norman mengatakan, peledakan itu bisa dikaitkan dengan nasib Muslim Rohingya, yang menghadapi penganiayaan di Myanmar yang mayoritas beragama Buddha. “Saya pikir para pelaku hanya bertujuan untuk membuat kekacauan di sini. Mereka mencoba memprovokasi umat Buddha dan Muslim.”

Pakar Terorisme Noor Huda Ismail mengatakan kepada The Jakarta Post bahwa pemboman itu mungkin merupakan tindak lanjut dari upaya pemboman sebelumnya di Kedutaan Besar Myanmar di Jakarta, namun gagal.

Dia menambahkan bahwa pemboman itu tidak ditujukan untuk menimbulkan korban, tetapi memberi isyarat kepada pemerintah.

Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Jusuf Kalla, yang baru-baru memimpin misi kemanusiaan ke Myanmar, menyerukan kepada para penganut kedua agama untuk menahan diri dari kekerasan.

“Saya sangat mendorong para penganutnya di kedua negara [Indonesia dan Myanmar] untuk tetap tenang dan tidak membalas serangan itu,” kata Kalla kepada wartawan di markas DMI di Jakarta Pusat. “Agar kekerasan itu tidak merambat, kita semua harus berupaya melakukan pencegahan,” tambahnya.

Mantan wakil presiden itu mengatakan bahwa umat Muslim tidak boleh terprovokasi oleh kekerasan di Myanmar karena situasi telah membaik di sana selama beberapa bulan terakhir berkat upaya-upaya meningkatkan perdamaian di sana.

Namun, polisi berhati-hati mengaitkan kejadian di Vihara Ekayana dengan kekerasan di Myanmar. Juru bicara Kepolisian Insp. Jenderal Ronny F. Sompie mengatakan polisi masih menyelidiki secara menyeluruh insiden tersebut untuk memastikan motif sebenarnya di balik serangan itu.

“Pada saat ini, kami tidak dapat mengumumkan kelompok mana yang terlibat dalam serangan itu karena kami masih mengumpulkan semua bukti,” kata Ronny kepada wartawan di Mabes Polri, Senin.

Rekaman CCTV di vihara itu menunjukkan seorang pria tak dikenal memasuki vihara dengan membawa tas selama orang ramai pada hari Minggu malam.

Rekaman itu juga menunjukkan sebuah surat yang ditemukan di lokasi ledakan menyatakan, “Kami menjawab jeritan Rohingya”.

Sementara itu Menteri Agama Suryadharma Ali juga mengatakan ia mengecam pemboman di Vihara Ekayana, dengan mengatakan tindakan itu adalah biadab.

“Saya mengutuk apa yang terjadi semalam dengan alasan apapun, termasuk atas nama agama tertentu. Ini bukan cara yang tepat untuk menyampaikan solidaritas,” kata menteri itu.

Sumber: The Jakarta Post

 

Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. Uskup serukan penghentian kekerasan terkait pilkada
  2. Indonesia segera ratifikasi konvensi anti-penghilangan paksa
  3. PBB bahas perubahan iklim di Jakarta
  4. Pengadilan Bangladesh ancam Human Rights Watch
  5. PS Unika Parahyangan akan tampil dalam konser untuk pembangunan gereja
  6. Lagi, jemaat GKI Yasmin dan HKBP Filadelfia ibadah di depan Istana
  7. Belanda minta maaf secara terbuka atas pembantaian di Indonesia
  8. Paus Fransiskus angkat Sekretaris Negara Vatikan yang baru
  9. 80 persen pasien rehabilitasi kembali menggunakan narkoba
  10. Prihatin krisis Suriah, Paus Fransiskus ajak puasa sehari
  1. Sudah saatnya kita meninggalkan apriori di masa lalu tentang pemerintahan yang k...
    Said Maman Sutarman on 2013-10-11 22:16:00
  2. damai itu indah, damai itu kasih, damai itu sejahtera.... Tuhan menghadirkan ki...
    Said Lerman Simanjuntak on 2013-10-08 13:01:00
  3. menarik juga menyimak pendapat Ali Sina dialamat ini. http://indonesian.alisina....
    Said alex on 2013-10-06 21:48:00
  4. hanya menutupi sebagian kecil kekerasan yg dialami oleh gereja disana, tp lumaya...
    Said De Girsank on 2013-10-02 16:52:00
  5. Bolehlah di contoh Indonesiaku, tunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia yang terk...
    Said Stefan on 2013-10-01 13:11:00
  6. Ini adalah bukti nyata dari kegagalan pendidikan di negara ini. Negara ini tidak...
    Said Matias on 2013-09-28 11:38:00
  7. Pak Ahok... Luar biasa. Seruan profetis di tengah pola pikir dan pola tindak ira...
    Said Matias on 2013-09-28 11:15:00
  8. Bapak Presiden yang terhormat. Belajar dong dari Jokowi. Janganlah Gengsi. Perso...
    Said Matias on 2013-09-28 10:50:00
  9. Erta Junaedi : berarti itu agama gak bisa di Indonesia karena negara Indonesia b...
    Said De Girsank on 2013-09-24 08:01:00
  10. seratus untuk ibu ratna s,,GBU...
    Said SILVESTER on 2013-09-20 20:19:00
UCAN India Books Online