UCAN Indonesia Catholic Church News

Komunitas Putri Sion beri pendidikan gratis untuk anak-anak dari keluarga miskin

16/08/2013

Komunitas Putri Sion beri pendidikan gratis untuk anak-anak dari keluarga miskin thumbnail

 

Sebuah pendopo berukuran 80 meter persegi dan tak berdinding yang terletak di wilayah Kramat III, Jakarta Pusat, dipenuhi ratusan anak, dari TK-SMA.

Di tempat yang disebut dengan “Kancil” ini, singkatan dari Kelompok Anak Cinta Belajar, setiap Minggu, anak-anak dari keluarga-keluaga miskin di sekitar mendapat pelajaran gratis dari anggota Komunitas Putri Sion, sebuah organisasi para perempuan Katolik, kebanyakan dari mereka adalah perempuan yang memilih untuk hidup selibat.

Komunitas yang berdiri sejak 1990 ini awalnya merupakan kelompok persekutuan doa khusus wanita single dan pemudi serta merupakan bagian dari Badan Karismatik Katolik Keuskupan Agung Jakarta (KAJ).

Sejak tahun 2000, mereka mulai merintis Kancil, sebagai respon atas krisis yang dialami bangsa Indonesia pasca krisis moneter 1998 -1999, dimana kala itu, banyak anak-anak yang kesulitan untuk mengakses pendidikan. Sejak itu, Kancil eksis hingga sekarang dan ribuan anak sudah pernah belajar di sini, mayoritas dari mereka adalah Muslim.

Para pendamping Kancil terdiri dari 8 anggota Pautri Sion dan 30-an lainnya adalah voluntir, serta beberapa frater dari Serikat Xaverian (SX). Mereka memberi anak-anak bimbingan belajar, mulai dari latihan membaca khusus buat anak-anak playgroup sampai dengan pelajaran IPA, IPS, Matematika, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris untuk anak-anak tingkat SMP ataupun SMA.

Menurut Maria Monica Meifung, Pendiri Komunitas Putri Sion kehadiran Kancil saat ini ingin membantu anak-anak dari keluarga miskin yang sering mengalami ketinggalan dalam hal penguasaan mata pelajaran dibanding anak-anak dari keluarga kaya di Jakarta yang kebanyakan mendapat bimbingan belajar tambahan di laur jam sekolah, seperti les privat.

Meifung berefleksi, melalui Kancil, ia menemukan wajah Allah dalam diri anak-anak miskin.

”Melalui Kancil, saya juga ikut berpartisipasi memperbaiki citra Allah yang telah dirusaki oleh kemiskinan dan kebodohan,” tambahnya.

Selain mendapat pelajaran tambahan, anak-anak juga dilatih untuk mengaktualisasikan bakat dan kemampuan mereka.

Imel, 27, salah seorang anggota Komunitas Putri Sion mengatakan, pada Minggu pertama dalam bulan, anak-anak mengadakan kegiatan ’Minggu Gembira’. Dalam kegiatan ini, katanya, anak-anak menampilkan bakat dan kemampuan, baik secara individu maupun kelompok.

”Ada anak yang menyanyikan lagu, membacakan puisi dan membawakan drama singkat.”

Selain itu, anak-anak juga dilatih untuk betanggung jawab terhadap tugas yang diberikan kepada mereka. Setelah proses belajar selesai, anak-anak sendirilah yang membersihkan dan merapikan kembali segala perangkat belajar.

“Biasanya yang membagikan tugas untuk membersikan tempat belajar ini adalah seorang koordinator yang dipilih di antara mereka,” kata perempuan yang sudah 7 tahun menjadi anggota Komunitas Putri Sion ini.

Ia mengaku sangat senang mendampingi anak-anak untuk belajar bersama, walaupun kadang-kadang harus berhadapan dengan anak-anak yang nakal.

”Tetapi saya berusaha untuk memahami kondisi dan keadaan mereka,” ungkapnya.

Selama ini, untuk memperlancar kegiatan dan menyediakan peralatan belajar, mereka menysisihkan dana kas dari iuran anggota.

Setiap bulan, anggota Komunitas Putri Sion yang semuanya sudah bekerja menyisihkan 3 persen  dari seluruh penghasilan mereka untuk kegiatan komunitas, dimana sebagiannya adalah untuk pembelian alat tulis, buku, dan perlengkapan belajar lainnya.

Anak-anak anggota Kancil mengaku sangat beruntung bisa mengikuti kegiatan di sini.

 “Proses pembelajaran di tempat ini sangat membantu kami dalam memahami pelajaran-pelajaran yang kami dapatkan di sekolah”, kata Ilham, 9, anak yang ayahnya bekerja sebagai tukang ojek.

“Selain belajar, di tempat ini kami juga memperoleh banyak teman. Anak-anak yang datang belajar di tempat ini berasal dari sekolah yang berbeda,” tambah Nabila,13, anak lain yang sudah sejak TK mengikuti Kancil.

Orangtua mereka juga memberi respon yang sama.

”Sejak belajar ditempat ini, anak saya menjadi rajin belajar dan berprestasi di sekolah,” kata Ibu Retno, 32.

“Apalagi anak-anak tidak dibebankan biaya atau iuran untuk masuk menjadi anggota kelompok belajar ini”, tambah perempuan yang sehari-hari membantu suaminya yang bekerja sebagai tukang tambal ban.

Sementara ibu lain, Fitri, mengaku, di Kancil, anaknya dilatih untuk belajar dengan tekun.

”Jika ada tugas yang sulit untuk dikerjakan, ia akan meminta bantuan kakak-kakak pendamping untuk menjelaskan kepadanya bagaimana cara mengerjakan tugas itu.”

Ia berharap, “Ke depannya, semua anak-anak yang mereka dampingi dapat tumbuh menjadi anak yang rajin, tekun, dan patuh kepada orang tua mereka”.

”Kancil harus tetap ada. Manfaatnya besar untuk anak-anak kami”, katanya.

Jimi Parung, Jakarta

 

Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. Uskup serukan penghentian kekerasan terkait pilkada
  2. Indonesia segera ratifikasi konvensi anti-penghilangan paksa
  3. PBB bahas perubahan iklim di Jakarta
  4. Pengadilan Bangladesh ancam Human Rights Watch
  5. PS Unika Parahyangan akan tampil dalam konser untuk pembangunan gereja
  6. Lagi, jemaat GKI Yasmin dan HKBP Filadelfia ibadah di depan Istana
  7. Belanda minta maaf secara terbuka atas pembantaian di Indonesia
  8. Paus Fransiskus angkat Sekretaris Negara Vatikan yang baru
  9. 80 persen pasien rehabilitasi kembali menggunakan narkoba
  10. Prihatin krisis Suriah, Paus Fransiskus ajak puasa sehari
  1. Sudah saatnya kita meninggalkan apriori di masa lalu tentang pemerintahan yang k...
    Said Maman Sutarman on 2013-10-11 22:16:00
  2. damai itu indah, damai itu kasih, damai itu sejahtera.... Tuhan menghadirkan ki...
    Said Lerman Simanjuntak on 2013-10-08 13:01:00
  3. menarik juga menyimak pendapat Ali Sina dialamat ini. http://indonesian.alisina....
    Said alex on 2013-10-06 21:48:00
  4. hanya menutupi sebagian kecil kekerasan yg dialami oleh gereja disana, tp lumaya...
    Said De Girsank on 2013-10-02 16:52:00
  5. Bolehlah di contoh Indonesiaku, tunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia yang terk...
    Said Stefan on 2013-10-01 13:11:00
  6. Ini adalah bukti nyata dari kegagalan pendidikan di negara ini. Negara ini tidak...
    Said Matias on 2013-09-28 11:38:00
  7. Pak Ahok... Luar biasa. Seruan profetis di tengah pola pikir dan pola tindak ira...
    Said Matias on 2013-09-28 11:15:00
  8. Bapak Presiden yang terhormat. Belajar dong dari Jokowi. Janganlah Gengsi. Perso...
    Said Matias on 2013-09-28 10:50:00
  9. Erta Junaedi : berarti itu agama gak bisa di Indonesia karena negara Indonesia b...
    Said De Girsank on 2013-09-24 08:01:00
  10. seratus untuk ibu ratna s,,GBU...
    Said SILVESTER on 2013-09-20 20:19:00
UCAN India Books Online