UCAN Indonesia Catholic Church News

Mama Belgi berkuda mencari anak miskin dan cacat ke kampung-kampung

27/08/2013

Mama Belgi berkuda mencari anak miskin dan cacat ke kampung-kampung thumbnail

Mama Belgi

 

Menyanyi bersama jadi kegiatan sehari-hari di sejumlah panti asuhan di Maumere, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Selain bergembira, anak-anak asuh mendapat berbagai pelatihan keterampilan, mulai dari menjahit hingga bermain musik, sebagai bekal untuk hidup mandiri.

Sosok di balik keluarga besar ini adalah seorang wanita asal Belgia, yang kini telah berusia lebih dari 80 tahun. Dia adalah Mama Belgi.

Liputan 6 Siang SCTV, Minggu (25/8/2013), menayangkan, sebelum datang ke Indonesia, wanita bernama lengkap Marie Jeanne Colson itu adalah guru, yang selalu tergerak untuk membantu anak-anak. Sejak di negara asalnya, Belgia hingga Afrika.

Dari tangan Mama Belgi, 6 panti asuhan telah didirikan guna  menampung penyandang cacat dan yatim-piatu. Semua anak mendapat pendidikan formal setidaknya hingga SMA.

Biaya operasional per bulan sekitar Rp 150 juta. Dana ini diperoleh dari sumbangan berbagai sumber, terutama para simpatisan di luar Indonesia. Awalnya, kondisi jauh lebih sulit. Tiada dana, tiada bantuan dari pemerintah setempat. Fasilitas untuk anak-anak terpaksa seadanya saja.

Lebih dari 4.000 anak, akhirnya tumbuh dalam lingkungan panti Mama Belgi. Seiring waktu, sarana terus bertambah. Sekarang telah ada sarana terapi untuk penyandang cacat.

Tak berhenti pada anak-anak panti, Mama Belgi juga menyalurkan bantuan bagi anak-anak keluarga tidak mampu agar mereka bisa terus bersekolah.

Kini banyak sudah anak asuh Mama Belgi yang berkarya untuk masyarakat. Mulai dari menjadi dokter sampai pengusaha. Harapan Mama Belgi tidaklah muluk, pekerja sosial di panti pada akhirnya juga bisa hidup layak.

Berkuda dari kampung ke kampung

Mama Belgi dating ke Paroki Mater Boni, Watublapi, Sikka awal tahun 1970-an. Di Watublapi, Mama Belgi membantu Pater Hendrik Boleng SVD, pastor kepala paroki saat itu mengurus anak-anak yatim piatu.

Pada masa itu di wilayah Paroki Watublapi  angka kematian ibu melahirkan sangat tinggi karena sulitnya transportasi dan belum ada puskesmas. Satu-satunya andalan umat adalah dukun bersalin sehingga risiko kematian ibu sangat tinggi.

Mama Belgi terpanggil untuk mengasuh  anak-anak yatim piatu. Bukan hanya anak yang ditinggal akibat ibunya meninggal. Anak-anak korban kekerasan, misalnya sang ibu dibunuh ayah juga diasuh Mama  Belgi.

Untuk mendapatkan anak yatim piatu, anak cacat, gizi buruk dan anak-anak dari keluarga tak mampu secara ekonomi, setiap pagi Mama Belgi  menunggang kuda masuk keluar kampung.  Seekor kuda jantan berwarna coklat setia menenami Mama Belgi menapaki jalan lumpur dan batu, semak berduri dan lorong-lorong yang kurang bersahabat. 

Mama Belgi selalu membawa gula-gula untuk  dibagikan kepada anak-anak yang berjejal di pinggir jalan. Mereka umumnya sudah hafal bunyi hentakan kaki kuda yang ditunggangi Mama Belgi.

Dari Watublapi, Mama Belgi  harus menempuh perjalanan yang melelahkan ke Kloangpopot, bahkan ke Halehebing yang merupakan daerah terisolir di zaman itu. Tak kenal lelah, Mama Belgi memacu kudanya agar bisa menemui anak-anak yang membutuhkan bantuan. Setiap kampung yang disinggahi, Mama Belgi menanyakan kepada kepala dusun atau tua adat soal keberadaan anak-anak yang membutuhkan bantuan atau butuh penanganan khusus.

Sekembali dari kampung-kampung di sore hari, Mama Belgi menggendong satu atau dua orang bayi ke pastoran. Di sana anak-anak itu ditampung di sebuah rumah yang kemudian bediri menjadi panti asuhan. Di sana Mama Belgi mengasuh anak-anak itu, ibarat seorang mama yang selalu memberikan belaian kasih sayang kepada anak-anaknya sendiri. Panti asuhan itu terus berkembang dan Mama  Belgi memperluas pelayanan ke wilayah Lio, seiring dengan hadirnya kasus busung lapar di Wolofeo.

Mama Belgi sungguh peduli terhadap anak- anak yatim piatu, anak-anak yang putus sekolah dibiayai sampai SLTA bahkan perguruan tinggi. Banyak orang telah menjadi manusia yang sukses. Terima kasih Mama Belgi.

 

Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. Uskup serukan penghentian kekerasan terkait pilkada
  2. Indonesia segera ratifikasi konvensi anti-penghilangan paksa
  3. PBB bahas perubahan iklim di Jakarta
  4. Pengadilan Bangladesh ancam Human Rights Watch
  5. PS Unika Parahyangan akan tampil dalam konser untuk pembangunan gereja
  6. Lagi, jemaat GKI Yasmin dan HKBP Filadelfia ibadah di depan Istana
  7. Belanda minta maaf secara terbuka atas pembantaian di Indonesia
  8. Paus Fransiskus angkat Sekretaris Negara Vatikan yang baru
  9. 80 persen pasien rehabilitasi kembali menggunakan narkoba
  10. Prihatin krisis Suriah, Paus Fransiskus ajak puasa sehari
  1. Sudah saatnya kita meninggalkan apriori di masa lalu tentang pemerintahan yang k...
    Said Maman Sutarman on 2013-10-11 22:16:00
  2. damai itu indah, damai itu kasih, damai itu sejahtera.... Tuhan menghadirkan ki...
    Said Lerman Simanjuntak on 2013-10-08 13:01:00
  3. menarik juga menyimak pendapat Ali Sina dialamat ini. http://indonesian.alisina....
    Said alex on 2013-10-06 21:48:00
  4. hanya menutupi sebagian kecil kekerasan yg dialami oleh gereja disana, tp lumaya...
    Said De Girsank on 2013-10-02 16:52:00
  5. Bolehlah di contoh Indonesiaku, tunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia yang terk...
    Said Stefan on 2013-10-01 13:11:00
  6. Ini adalah bukti nyata dari kegagalan pendidikan di negara ini. Negara ini tidak...
    Said Matias on 2013-09-28 11:38:00
  7. Pak Ahok... Luar biasa. Seruan profetis di tengah pola pikir dan pola tindak ira...
    Said Matias on 2013-09-28 11:15:00
  8. Bapak Presiden yang terhormat. Belajar dong dari Jokowi. Janganlah Gengsi. Perso...
    Said Matias on 2013-09-28 10:50:00
  9. Erta Junaedi : berarti itu agama gak bisa di Indonesia karena negara Indonesia b...
    Said De Girsank on 2013-09-24 08:01:00
  10. seratus untuk ibu ratna s,,GBU...
    Said SILVESTER on 2013-09-20 20:19:00
UCAN India Books Online